PANGARIBUAN – TOBAFORINDO | Di balik agenda rutin Monitoring Desa Percontohan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tahun 2026, tersimpan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi sosial, kesehatan, pendidikan, dan ketahanan ekonomi masyarakat Desa Lumban Sinaga Simatupang, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kepala Desa Lumban Sinaga Simatupang, Kamis (11/6/2026), dipimpin oleh Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tapanuli Utara, Ny. Lisa Deni Lumbantoruan Br. Malau, dan dihadiri Plt. Camat Pangaribuan Marhasak Simaremare, SH, Ketua TP PKK Kecamatan Pangaribuan Vera Siregar, Kepala Puskesmas Lumban Sinaga Melfa H. Simajuntak, Kepala Desa Supandi Sinaga, Ketua TP PKK Desa Sartika Pakpahan, kader PKK, perangkat desa, serta tokoh masyarakat.
Monitoring tersebut tidak hanya berfokus pada pemeriksaan administrasi organisasi, tetapi juga menjadi sarana evaluasi terhadap pelaksanaan 10 Program Pokok PKK yang selama ini menjadi salah satu instrumen pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.
Dasawisma Menjadi Basis Data Pembangunan
Dalam pemaparannya, Ketua TP PKK Desa Lumban Sinaga Simatupang, Sartika Pakpahan, menjelaskan bahwa seluruh program yang dijalankan mengacu pada data yang dihimpun melalui kelompok Dasawisma.
Desa Lumban Sinaga Simatupang saat ini memiliki 17 kelompok Dasawisma yang membina 312 kepala rumah tangga dan 346 kepala keluarga. Jumlah penduduk tercatat sebanyak 1.186 jiwa, terdiri dari 569 laki-laki dan 617 perempuan.
Menurut Sartika, keberadaan Dasawisma bukan hanya sebagai pelaksana administrasi PKK, melainkan menjadi instrumen penting dalam memetakan kondisi riil masyarakat, mulai dari kesehatan keluarga, pendidikan, ekonomi, hingga kondisi lingkungan.
“Data yang akurat menjadi dasar dalam menentukan program yang tepat sasaran. Karena itu, peran Dasawisma sangat penting dalam mendukung pembangunan berbasis keluarga,” ujarnya.
Penguatan Ketahanan Sosial dari Tingkat Keluarga
Hasil monitoring menunjukkan bahwa pada bidang Penghayatan dan Pengamalan Pancasila serta Gotong Royong (Pokja I), TP PKK Desa aktif melakukan pembinaan terhadap berbagai kelompok masyarakat.
Sepanjang tahun 2026, kegiatan pembinaan telah menjangkau 50 lanjut usia, 35 remaja, dan 40 calon pengantin.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui pembentukan karakter, peningkatan kesadaran sosial, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan.
Dalam konteks pembangunan sosial, pembinaan terhadap calon pengantin dinilai memiliki peran strategis karena menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat dan berkualitas sejak awal.
Literasi dan Pendidikan Masih Memerlukan Penguatan
Pada bidang Pendidikan dan Keterampilan (Pokja II), Desa Lumban Sinaga Simatupang mencatat capaian positif berupa tidak ditemukannya warga yang mengalami buta huruf.
Namun demikian, hasil monitoring juga menunjukkan masih terbatasnya sarana pendidikan nonformal di desa. Hingga saat ini belum tersedia perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, maupun program koperasi yang berjalan aktif.
Hanya satu warga yang tercatat mengikuti program Keaksaraan Fungsional.
Kondisi tersebut menjadi catatan penting bagi pengembangan sumber daya manusia, terutama dalam menghadapi tuntutan perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Ketahanan Pangan Menjadi Kekuatan Utama
Salah satu sektor yang menonjol dalam hasil monitoring adalah bidang pangan dan ekonomi keluarga.
Data TP PKK menunjukkan sebanyak 346 keluarga memiliki persediaan beras sebagai kebutuhan pokok. Di sektor ekonomi produktif terdapat 262 usaha peternakan rakyat yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.
Program HATINYA PKK juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sebanyak 297 rumah memiliki warung hidup, 312 rumah memiliki lumbung hidup, 168 rumah memiliki tanaman obat keluarga (TOGA), dan 312 rumah memanfaatkan pekarangan untuk tanaman pangan keluarga.
Selain itu, tercatat terdapat 5 usaha pangan, 3 usaha sandang, dan 4 usaha jasa yang berkembang melalui pemberdayaan ekonomi keluarga.
Dari sisi perumahan, sebanyak 299 rumah dinyatakan layak huni, sementara 13 rumah lainnya masih memerlukan perhatian dan pembinaan lebih lanjut.
Data tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan keluarga di desa ini tidak hanya bergantung pada pasar, tetapi juga ditopang oleh kemampuan masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan rumah tangga.
Sanitasi dan Kesehatan Menunjukkan Kemajuan
Pada bidang kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup (Pokja IV), pelayanan kesehatan masyarakat didukung oleh satu Posyandu yang berada di Dusun III.
Sepanjang tahun 2026, sebanyak 76 bayi telah memperoleh imunisasi, sementara 312 balita mendapatkan pelayanan kesehatan secara rutin.
Tidak ditemukan kasus gizi kurang dalam laporan yang dipaparkan kepada tim monitoring.
Dari aspek sanitasi, seluruh rumah tangga telah memiliki akses terhadap air bersih melalui 312 unit sumur bor dan sumur gali, serta telah memiliki 312 unit jamban sehat.
Meski demikian, monitoring juga mengidentifikasi beberapa kebutuhan infrastruktur lingkungan yang masih perlu mendapat perhatian, di antaranya belum tersedianya MCK umum, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
Temuan tersebut menjadi penting mengingat kualitas sanitasi lingkungan memiliki hubungan langsung dengan kesehatan masyarakat.
Kesadaran Perlindungan Sosial Meningkat
Dalam bidang perencanaan keluarga, tercatat terdapat 123 Pasangan Usia Subur (PUS) dan 149 Wanita Usia Subur (WUS).
Sebanyak 67 peserta aktif mengikuti program Keluarga Berencana, terdiri dari 24 peserta laki-laki dan 43 peserta perempuan.
Sementara itu, aspek perlindungan sosial menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sebanyak 346 keluarga telah memiliki tabungan keluarga, sedangkan 308 keluarga telah memiliki jaminan kesehatan.
Data tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan ekonomi dan kesehatan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga.
Ketua TP PKK Taput Tekankan Akurasi Data dan Sinergi Lintas Sektor
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Tapanuli Utara, Ny. Lisa Deni Lumbantoruan Br. Malau, menyampaikan amanah Ketua TP PKK Kabupaten Tapanuli Utara, Ny. Neny Angelina JTP Hutabarat Br. Purba.
Ketua TP PKK menegaskan bahwa data Dasawisma harus menjadi fondasi utama dalam penyusunan program pemberdayaan masyarakat.
Data yang akurat, menurutnya, akan menentukan ketepatan berbagai intervensi pembangunan, mulai dari penanganan stunting, peningkatan sanitasi lingkungan, penguatan pendidikan keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Selain itu, seluruh Pokja diminta terus meningkatkan kualitas program sesuai bidang masing-masing, termasuk penguatan karakter keluarga, peningkatan literasi masyarakat, pengembangan UP2K, pemanfaatan pekarangan rumah untuk ketahanan pangan, serta percepatan penurunan stunting.
Ketua TP PKK juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara PKK, pemerintah desa, kecamatan, puskesmas, sekolah, dan perangkat daerah dalam mendukung keberhasilan pembangunan keluarga.
Cermin Pembangunan dari Tingkat Keluarga
Hasil monitoring menunjukkan bahwa Desa Lumban Sinaga Simatupang memiliki sejumlah indikator yang cukup kuat dalam mendukung pembangunan berbasis keluarga, terutama pada sektor ketahanan pangan, pelayanan kesehatan dasar, dan perlindungan sosial.
Di sisi lain, penguatan literasi masyarakat, pengembangan koperasi, peningkatan infrastruktur sanitasi, dan kapasitas kader masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Melalui data Dasawisma yang terkelola dengan baik serta dukungan berbagai pihak, Desa Lumban Sinaga Simatupang dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai salah satu desa percontohan PKK yang mampu menerjemahkan program pemberdayaan keluarga menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
(Sofian Candra Lase)



