Puluhan Tahun Menunggu Aspal, Warga Sigotom Julu–Soporaru Pertanyakan Arah Pembangunan di Tapanuli Utara
TOBAFORINDO – Pangaribuan, Tapanuli Utara | Di balik hamparan perbukitan yang membentang di Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, tersimpan sebuah ironi yang hingga kini masih dirasakan masyarakat. Ketika pembangunan infrastruktur terus menjadi prioritas dalam berbagai pidato dan dokumen perencanaan pemerintah, warga Desa Sigotom Julu masih harus berjibaku dengan kondisi jalan yang dinilai belum layak sebagai akses utama menuju Desa Soporaru.
Ruas jalan yang menjadi penghubung aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial masyarakat itu telah lama menjadi perhatian warga. Namun harapan untuk menikmati jalan yang lebih baik hingga kini belum sepenuhnya terwujud.
Bagi masyarakat setempat, jalan tersebut bukan sekadar bentangan tanah dan batu. Jalan itu adalah urat nadi kehidupan.
Setiap hari para petani melintas membawa hasil panen, anak-anak menuju sekolah, dan warga menggunakan akses tersebut untuk berbagai kebutuhan, termasuk saat harus mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya berharap jalan yang bisa dilalui dengan aman dan layak,” ujar seorang warga yang ditemui di lokasi.
Kondisi jalan yang rusak menjadi tantangan tersendiri, terutama saat musim hujan. Beberapa titik berubah menjadi licin dan sulit dilalui kendaraan. Tidak jarang masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi maupun perbaikan kendaraan akibat kondisi jalan yang kurang memadai.
Lebih dari sekadar persoalan kenyamanan, warga menilai kondisi tersebut mulai menyentuh aspek keselamatan. Dalam keadaan darurat medis, akses jalan menjadi faktor penting yang dapat menentukan kecepatan penanganan pasien.
“Kalau ada warga yang sakit parah pada malam hari, tentu semua berharap bisa segera sampai ke fasilitas kesehatan. Jalan yang baik bukan hanya soal pembangunan, tetapi juga soal keselamatan,” ungkap warga lainnya.
Selama bertahun-tahun, masyarakat mengaku telah menyampaikan berbagai usulan pembangunan melalui forum perencanaan pembangunan di tingkat desa maupun kecamatan. Aspirasi tersebut terus bergulir dari tahun ke tahun, namun masyarakat masih menunggu realisasi yang lebih nyata.
Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai status dan prioritas pembangunan ruas jalan Sigotom Julu–Soporaru.
Apakah jalan tersebut telah masuk dalam program pembangunan daerah?
Apakah terdapat kendala administratif, anggaran, atau kewenangan yang menyebabkan pembangunan belum terlaksana secara optimal?
Dan yang tidak kalah penting, kapan masyarakat dapat melihat kepastian pembangunan yang selama ini mereka nantikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai wajar mengingat jalan merupakan salah satu infrastruktur dasar yang berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat.
Pengamat pembangunan pedesaan menilai bahwa akses jalan yang baik memiliki dampak luas terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi daerah. Infrastruktur yang memadai mampu menekan biaya distribusi hasil pertanian, meningkatkan mobilitas masyarakat, memperluas akses pendidikan, serta mempercepat pelayanan kesehatan.
Sebaliknya, keterbatasan akses infrastruktur berpotensi memperlambat laju pembangunan dan memperbesar kesenjangan antarwilayah.
Di tengah semangat pemerataan pembangunan yang terus didorong pemerintah, masyarakat Sigotom Julu berharap perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat pedesaan tidak berhenti pada tahap perencanaan semata.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, serta instansi terkait dapat memberikan penjelasan terbuka mengenai status ruas jalan tersebut, termasuk rencana pembangunan yang akan dilakukan ke depan.
Bagi warga, pembangunan jalan Sigotom Julu–Soporaru bukan sekadar proyek infrastruktur. Jalan itu merupakan simbol hadirnya negara di tengah masyarakat yang selama ini terus menaruh harapan.
Sebab setiap hari jalan itu dilalui oleh petani yang mencari nafkah serta anak-anak yang mengejar pendidikan. (Lase)



