TOBAFORINDO – Pangaribuan | 29 Juli 2026 – Dua bak penampungan sampah di lokasi Kantor Camat Pangaribuan tampak penuh hingga meluber. Tumpukan daun kering, ranting, dan sampah plastik dibiarkan menggunung, menghadirkan ironi di salah satu lokasi yang menjadi wajah pelayanan pemerintahan di tingkat kecamatan
Kondisi tersebut menuai keluhan warga Menurut mereka, jika lingkungan kantor pemerintahan saja belum mampu menunjukkan contoh pengelolaan sampah yang baik, maka ajakan menjaga kebersihan kepada masyarakat berpotensi kehilangan makna.
“Kalau sampah yang sudah masuk ke bak penampungan saja tidak segera diangkut, lalu di mana letak keseriusan pengelolaan lingkungan?” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan
Fenomena ini bukan sekadar persoalan dua bak sampah yang penuh. Ini adalah potret kecil yang dapat memengaruhi persepsi publik terhadap kualitas tata kelola pelayanan. Sebab, kebersihan lingkungan pemerintah bukan hanya urusan estetika, tetapi juga mencerminkan kedisiplinan dalam menjalankan fungsi pelayanan.
Sorotan pun mengarah kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Utara. Masyarakat mempertanyakan apakah sistem pengangkutan sampah telah berjalan sesuai jadwal, ataukah persoalan ini menunjukkan adanya aspek yang perlu segera dievaluasi sebab sudah tiga Minggu sampah tidak di angkut
Satirnya, ketika masyarakat terus diajak memilah sampah, menjaga kebersihan, dan mencintai lingkungan, justru di lokasi Kantor Camat Pangaribuan terlihat sampah yang telah berada di tempatnya, tetapi belum juga berpindah ke tempat pengolahan.
Seolah-olah tugas masyarakat hanya memastikan sampah masuk ke bak penampungan, sementara setelah itu waktu yang menentukan nasibnya.
Lebih ironis lagi, slogan tentang lingkungan hidup akan terdengar megah ketika disampaikan di ruang rapat atau dicetak di baliho. Namun slogan tidak pernah mengangkut sampah. Yang mengangkut sampah adalah sistem yang bekerja, petugas yang hadir, dan pengawasan yang berjalan
Jika dua bak sampah di salah satu pusat pelayanan pemerintahan dapat dibiarkan penuh hingga meluber, publik wajar bertanya: apakah yang perlu dievaluasi hanya bak sampahnya, atau juga efektivitas pengelolaan persampahan yang menjadi tanggung jawab instansi terkait?
Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan pengelolaan lingkungan bukan ditentukan oleh banyaknya slogan, melainkan oleh kondisi nyata yang dilihat masyarakat setiap hari. Sebab, kepercayaan publik dibangun dari tindakan yang konsisten, bahkan melalui hal yang tampak sederhana seperti sampah yang diangkut tepat waktu.
(Sofian Candra Lase)



