Tobaforindo – Taput | Fluktuasi harga kolang-kaling kembali dirasakan para pengolah di Desa Silantom Tonga, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara Dalam beberapa hari terakhir, harga di tingkat pengolah dilaporkan mengalami penurunan cukup tajam, memicu kekecewaan di kalangan warga yang menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut, 29/02/26.
H. Ritonga, salah seorang pengolah kolang-kaling, mengungkapkan bahwa perubahan harga terjadi sangat cepat. Ia menyebutkan, sekitar empat hari lalu harga kolang-kaling masih berada di kisaran Rp8.000 per kilogram, namun kini turun menjadi Rp6.000 per kilogram.
“Empat hari yang lalu masih Rp8.000, sekarang sudah Rp6.000. Kami tentu sangat kesal dengan situasi harga seperti ini, karena biaya produksi tetap besar sementara harga turun,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia juga menjelaskan bahwa biaya bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Bagi pengolah yang tidak memiliki pohon aren, buah harus dibeli dari pemilik dengan harga sekitar Rp150.000 per tandan, sementara biaya angkutan ditanggung sendiri oleh pengolah. Risiko kerugian semakin besar apabila tandan buah yang dibeli masih terlalu muda karena hasil kolang-kaling yang diperoleh lebih sedikit atau kualitasnya kurang baik.
“Kalau tandanan masih muda, bisa rugi kami. Sudah beli mahal, tapi hasilnya sedikit,” tambahnya.
Namun bagi warga yang memiliki pohon aren sendiri, kondisi tersebut sedikit lebih menguntungkan karena tidak perlu mengeluarkan biaya pembelian bahan baku. Mereka bisa langsung mengolah buah dari kebun sendiri, sehingga beban produksi lebih ringan dan yang menjadi persoalan utama hanya fluktuasi harga jual di pasaran.
“Yang punya pokok sendiri masih mending, tinggal olah saja. Masalahnya sekarang hanya harga yang tidak stabil,” kata seorang warga lainnya.
Kolang-kaling sendiri berasal dari buah pohon aren yang diolah melalui proses panjang dan melelahkan. Mulai dari pengambilan buah, perebusan berjam-jam menggunakan kayu bakar, fermentasi beberapa hari, hingga proses pengupasan, pemipihan, pencucian, dan perendaman sebelum siap dipasarkan.
Menurut warga, harga kolang-kaling memang biasanya naik menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadan dan Idulfitri karena permintaan meningkat. Namun di luar musim tersebut, harga sering turun dan tidak menentu, bahkan terkadang tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
Meski menghadapi kondisi harga yang tidak stabil, biaya produksi tinggi, serta risiko kerugian, masyarakat tetap mengerjakan usaha kolang-kaling karena menjadi salah satu sumber pendapatan utama keluarga. Aktivitas ini juga membantu perputaran ekonomi masyarakat setempat, mulai dari kebutuhan kayu bakar, tenaga kerja, hingga distribusi ke pasar.
Tanggapan Kepala Desa
Kepala Desa Silantom Tonga, Raja Ritonga, mengakui bahwa usaha kolang-kaling merupakan salah satu penopang ekonomi warga di desanya. Ia menyebut pemerintah desa memahami kesulitan yang dihadapi pengolah, terutama terkait harga yang tidak stabil dan tingginya biaya produksi.
“Kami dari pemerintah desa sangat berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk membantu para pengolah kolang-kaling. Ini usaha masyarakat kecil yang sudah turun-temurun dan menjadi sumber penghidupan banyak keluarga,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan berupa peralatan produksi yang lebih modern, pelatihan pengolahan, hingga akses permodalan akan sangat membantu masyarakat meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. Selain itu, menurutnya, perlu ada upaya membuka akses pasar yang lebih luas agar harga tidak jatuh saat permintaan menurun.
“Kalau harga bisa lebih stabil dan pemasaran lebih jelas, kami yakin ekonomi masyarakat bisa meningkat. Potensi kolang-kaling di desa ini sebenarnya cukup besar,” katanya.
Harapan Warga
Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pihak terkait terhadap usaha kolang-kaling yang selama ini menjadi sumber ekonomi masyarakat. Mereka menginginkan bantuan peralatan produksi yang lebih modern agar proses pengolahan tidak terlalu berat, serta dukungan akses modal untuk mengurangi ketergantungan pada pembelian bahan baku secara tunai.
Selain itu, warga juga berharap adanya upaya stabilisasi harga dan pembukaan akses pasar yang lebih luas, sehingga harga kolang-kaling tidak jatuh drastis pada hari biasa. Dengan harga yang lebih stabil, masyarakat yakin usaha ini dapat berkembang dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Di tengah situasi yang tidak menentu, ketekunan masyarakat mempertahankan usaha kolang-kaling menjadi gambaran nyata perjuangan ekonomi rakyat yang bertumpu pada kerja keras dan sumber daya alam lokal.
(Sofian Candra Lase)



