WARGA GMIM DIAJAK UNTUK MENGHAYATI MINGGU SENGSARA PERTAMA TAHUN 2026

Daerah

TOBAFORINDO – MANADO, SULAWESI UTARA | 22 Februari 2026, Menurut kalender gerejawi, minggu ini kita memasuki minggu sengsara yang pertama dalam menghayati penderitaan Yesus Kristus. Dalam teologi Reformed, sengsara Tuhan Yesus adalah inti doktrin Substitusi Penal (Kristus menanggung hukuman dosa manusia). Prapaskah dalam tradisi Reformed adalah waktu untuk self-examination (memeriksa diri).

Di minggu sengsara ini, kita akan menghayati kembali betapa pentingnya pengampunan Tuhan Allah sebagai kebutuhan mendasar bagi pengampunan dosa manusia. Kematian Yesus Kristus adalah pengorbanan yang memungkinkan pengampunan dosa. Ibrani 9:22 menyatakan, “Menurut hukum Taurat hampir segala sesuatu disucikan dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”

Penelitian mengungkapkan betapa pentingnya pengampunan itu, karena tidak hanya berdampak pada aspek rohani tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Menurut penelitian oleh June Tangney, dkk.), rasa bersalah yang tidak terselesaikan dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan merasa rendah diri. Sumber dari pengampunan yang sejati dan sempurna adalah Tuhan Allah. Tema minggu ini: “Pada Tuhan Ada Pengampunan.”

Makna dan Implikasi Firman dalam MTPJ 22 – 28 Februari 2026 (Minggu Sengsara I) Mazmur 130:1-8 dengan tema perenungan “Pada Tuhan Ada Pengampunan ”

1. Sehebat dan sekuat apapun kita dari segi posisi, kedudukan dan jabatan, kemampuan finansial, kemapanan ekonomi, kekuatan fisik dan bahkan dengan apapun yang dapat dibanggakan; ada masa dalam hidup, kita akan mengalami kelemahan dan kerapuhan, ketidakberdayaan dan ketidakmampuan dalam menghadapi “sesuatu”, karena pada dasarnya kita adalah manusia yang lemah dan berdosa. Kita tidak dapat mengendalikan
2. semua hal dan kita tidak dapat mengatasi semua peristiwa. Kita tidak dapat menolong diri sendiri bahkan orang lain pun tidak dapat menjamin bisa membantu, karena pada dasarnya kita semua manusia berdosa. Oleh karena itu kita membutuhkan pengampunan dari Tuhan Allah supaya dapat memulihkan kehidupan kita.
3. Berseru kepada Tuhan Allah adalah cara terbaik untuk menghadapi setiap proses dan tahapan dalam kehidupan.

Berseru kepada-Nya adalah bentuk kesadaran diri bahwa kita membutuhkan-Nya dan hidup kita bergantung kepada kasih dan anugerah-Nya. Berseru kepada Tuhan Allah dapat juga kita lakukan lewat doa-doa kita dengan penuh kerendahan hati untuk memohonkan pengampunan, pertolongan dan penyertaan-Nya.

Berseru dan berserah kepada Tuhan Allah sambil menantikan dan berharap pada pertolongan-Nya, bukan berarti kita tidak bertindak; sebab justru dalam keadaan seperti inilah iman kita semakin aktif untuk memiliki pengharapan penuh kepada-Nya.

4. Ketika berharap di dalam iman, kita menantikan waktunya Tuhan Allah, penantian dalam iman kepada-Nya. Tuhan Allah senantiasa dan niscaya memberikan pertolongan pada saat yang tepat. Dalam penantian tersebut, kita harus tetap berdiri kokoh, kuat, tabah dan sabar sambil waspada supaya tidak terlena dengan berbagai godaan dan tantangan.

5. Kiranya dalam penghayatan minggu-minggu sengsara Tuhan Yesus, kita semakin menanamkan kesadaraan tentang keberdosaan dan ketidakberdayaan kehidupan kita. Tanpa pengampunan Tuhan Allah kita tidak akan terbebas blm dari dosa, dan tanpa kasih-Nya kita tidak akan sanggup mengatasi pergumulan kehidupan kita.

(Tim Penyusun MTPJ GMIM 2026)