SORONG – Tobaforindo | 1 Agustus 2026 – Timo Rumpaidus yang menjadi korban penembakan oleh pihak Pangkalan Angkatan Laut (POMAL) semakin memperkuat dugaan bahwa peristiwa tersebut tidak ada hubungannya dengan alasan disersi, melainkan berkaitan erat dengan aksi protes warga terhadap CV Prima Papua.
Timo mengungkapkan fakta penting: tiga hari sebelum aksi pemalangan dilakukan, anggota POMAL berinisial R yang sama ikut hadir dalam proses mediasi antara dirinya bersama warga Klalin VI dengan pihak perusahaan.
“Dalam pertemuan itu, anggota POMAL berinisial R tersebut secara tegas menyatakan bahwa dirinya hadir mewakili pihak CV Prima Papua,” ungkap Timo.
Aksi pemalangan atau penutupan akses gudang yang dipimpin Timo sehari sebelum penembakan pun dilakukan warga bukan tanpa alasan. Terdapat sejumlah persoalan serius yang merugikan masyarakat, antara lain:
– Limbah olahan kayu perusahaan merusak kolam milik warga yang dikenal sebagai Pak D, sehingga merugikan mata pencahariannya;
– Pencemaran lingkungan yang semakin parah akibat tumpukan dan pembuangan limbah kayu yang tidak tertata;
– Adanya dugaan kuat penyimpangan berupa penimbunan bahan bakar minyak (BBM) ilegal di dalam lingkungan gudang perusahaan.
Ia juga menegaskan kembali identitas anggota yang menembaknya.
“Anggota POMAL berinisial R yang ikut menembak saya, selama ini dialah yang bertugas menjaga dan mengawal area gudang CV Prima Papua. Hal ini bukan kebetulan semata,” tegasnya.
Timo juga menyoroti hubungan kerja sama yang erat antara pihak pengusaha dengan instansi militer setempat.
“Selama ini diketahui bahwa CV Prima Papua memiliki hubungan kerja sama yang sangat dekat dengan Lantamal. Pemilik perusahaan, Toni Prima Papua, kerap membantu berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak Lantamal,” tambahnya.
Berdasarkan seluruh rangkaian fakta tersebut, Timo sangat yakin penembakan terhadap dirinya merupakan bentuk balas dendam atau tindakan yang dikoordinir, bukan semata-mata karena alasan disersi seperti yang dikemukakan pihak POMAL.
Sementara itu, Kepala Suku Biak Kabupaten Sorong, Moses Adadikam, mengecam keras tindakan oknum anggota POMAL yang melakukan penembakan tersebut.
“Saya mengecam tindakan semena-mena yang dilakukan oknum tersebut. Kami meminta pimpinan POMAL mau duduk bersama keluarga besar Suku Biak untuk menyelesaikan permasalahan ini juga melalui jalur adat,” tegas Moses.
Keluarga besar Rumpaidus serta warga masyarakat berharap aparat penegak hukum yang berwenang mengusut kasus ini secara tuntas, transparan, dan tidak berat sebelah. Mereka meminta agar seluruh keterangan fakta di lapangan, keterkaitan personel yang terlibat, serta dugaan pelanggaran di lingkungan perusahaan dibuka secara jelas kepada publik.
(Tobaforindo.com)
(Hermanto,pardosi)



